Kemoterapi kanker payudara merupakan salah satu metode pengobatan yang umum digunakan untuk mengatasi dan mengendalikan pertumbuhan sel kanker. Dilansir dari situs kementerian kesehatan 2026, lebih dari 80% pasien kanker payudara menjalani terapi modalitas, yakni kombinasi operasi, radioterapi, dan kemoterapi hingga tahap akhir pengobatan.
Terapi ini sering menjadi bagian penting dalam rangkaian perawatan, baik sebagai pengobatan utama maupun pendukung setelah tindakan lain seperti operasi.
Tindakan kemoterapi seringkali membuat sebagian orang khawatir. Bukan hanya karena efek sampingnya, tetapi juga biaya yang harus dikeluarkan. Dalam praktiknya, biaya kemoterapi dapat mencapai jutaan hingga belasan juta rupiah per sesi, tergantung pada jenis obat, stadium kanker, serta kebijakan pembiayaan kesehatan nasional seperti sistem INA-CBGs yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2016.
Prosedur Kerja Kemoterapi Kanker Payudara
Dalam praktiknya, kemoterapi tidak hanya berfokus pada cara kerja obat dalam membunuh sel kanker, tetapi juga pada tujuan klinis yang ingin dicapai sesuai dengan kondisi pasien. Berikut tujuan dan cara kerja kemoterapi yang perlu diketahui:
Tujuan Kemoterapi dalam Pengobatan Kanker
Kemoterapi dilakukan dengan berbagai tujuan, tergantung pada kondisi pasien dan stadium kanker payudara yang dialami. Secara umum, terapi ini bertujuan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker, mengurangi risiko penyebaran, serta meningkatkan keberhasilan pengobatan.
Namun, secara lebih spesifik, kemoterapi dibedakan berdasarkan waktu pemberiannya dalam proses pengobatan, yaitu kemoterapi neoadjuvan dan adjuvan. Perbedaan keduanya dapat dilihat pada tabel berikut:
| Aspek |
Kemoterapi Neoadjuvan |
Kemoterapi Adjuvan |
| Waktu pemberian |
Sebelum operasi |
Setelah operasi |
| Tujuan utama |
Mengecilkan ukuran tumor serta menilai seberapa responsif kanker terhadap obat. |
Membunuh sisa sel kanker setelah operasi dan mencegah sel datang Kembali |
| Kelebihan |
Terapi neoadjuvan dapat membantu mengecilkan hingga menghilangkan tumor berukuran kecil, sehingga tindakan operasi mungkin tidak diperlukan. |
Menurunkan risiko sel kanker tumbuh kembali, terutama bagi pasien dalam masa remisi |
| Indikasi umum |
Tumor berukuran besar atau stadium lanjut lokal |
Pasien yang telah menjalani operasi pengangkatan tumor |
Cara Kerja Kemoterapi Kanker Payudara
Melansir dari Breast Cancer Research Foundation, kemoterapi kanker payudara adalah metode pengobatan yang menggunakan satu atau lebih obat untuk membunuh sel kanker. Obat-obatan ini bekerja dengan cara masuk ke dalam aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh guna menghancurkan sel kanker yang ada.
Pemberian obat dapat dilakukan melalui infus ke dalam pembuluh darah maupun secara oral dalam bentuk tablet atau kapsul. Obat ini termasuk dalam golongan obat sitostatika yang menargetkan sel yang membelah dengan cepat.
Namun, karena beberapa sel sehat seperti sel rambut dan saluran pencernaan juga memiliki karakteristik serupa, efek samping seperti rambut rontok dan gangguan pencernaan dapat terjadi selama terapi berlangsung.
Estimasi Biaya Kemoterapi Kanker Payudara
Biaya kemoterapi bisa berbeda-beda pada tiap pasien, tergantung jenis obat, jumlah siklus terapi, serta fasilitas layanan kesehatan yang digunakan.
Dilansir dari Kompas.id, Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (Peraboi) menyebutkan bahwa biaya minimal operasi pengangkatan payudara pada stadium awal di rumah sakit swasta menengah di Jakarta berkisar antara Rp30 juta hingga Rp40 juta.
Besaran biaya tersebut dapat berbeda-beda tergantung lokasi, jenis rumah sakit, ketersediaan fasilitas, dokter yang menangani, serta kebutuhan terapi masing-masing pasien.
Manajemen Efek Samping Selama Masa Pengobatan
Efek samping kemoterapi kanker payudara merupakan hal yang umum terjadi karena obat juga dapat memengaruhi sel sehat. Namun, dengan penanganan yang tepat, efek ini bisa dikontrol dengan baik supaya kualitas hidup pasien tetap terjaga. Berikut beberapa prosedur manajemen efek samping yang bisa dilakukan:
Cara Mengatasi Mual, Muntah, dan Perubahan Nafsu Makan
Salah satu efek yang paling sering dirasakan pasien setelah kemoterapi adalah rasa mual dan tidak nafsu makan. Untuk mengatasi hal ini, ada beberapa cara yang bisa dicoba untuk dilakukan, antara lain:
Makan dalam porsi kecil namun sering
Menghindari makanan berlemak dan berbau tajam
Minum air putih yang cukup
Menggunakan obat anti-mual sesuai anjuran dokter
Tips Merawat Kulit dan Rambut yang Mengalami Kerontokan
Selain mual, rambut rontok juga jadi salah satu efek samping yang paling terlihat selama pasien menjalani kemoterapi kanker payudara. Kondisi ini terjadi karena obat kemoterapi sering kali membuat kulit menjadi lebih kering dan sensitif. Untuk mengatasi masalah ini beberapa solusi yang dapat dilakukan, antara lain:
Gunakan sampo berbahan lembut
Hindari penggunaan alat panas pada rambut
Gunakan penutup kepala untuk perlindungan
Jaga kelembapan kulit dengan lotion
Cara Menjaga Sistem Imun agar Tidak Mudah Terinfeksi
Selama kemoterapi, imunitas tubuh cenderung menurun. Oleh karena itu, penting untuk menjaga daya tahan tubuh dengan cara:
Langkah ini dapat membantu mengurangi risiko infeksi selama pengobatan berlangsung.
Persiapan Sebelum Menjalani Sesi Kemoterapi Pertama
Menjalani sesi kemoterapi pertama sering kali menimbulkan rasa cemas bagi pasien. Oleh karena itu, persiapan yang matang sangat penting untuk membantu proses pengobatan berjalan lebih lancar. Berikut beberapa hal yang perlu dipersiapkan:
Pemeriksaan Lab dan Kesiapan Fisik Pasien
Dilansir dari laman American Cancer Society, sebelum memulai kemoterapi, pasien akan menjalani beberapa pemeriksaan, antara lain:
Pemeriksaan tanda vital seperti tekanan darah, suhu, dan denyut nadi
Pemeriksaan darah untuk memastikan kondisi tubuh siap menerima obat
Pemasangan akses infus atau penggunaan port untuk pemberian obat
Pemberian obat kemoterapi yang bisa disertai obat pendamping (pre-medication) seperti anti mual atau steroid
Persiapan Mental dan Dukungan Keluarga
Selain kesiapan fisik, dukungan emosional juga sangat diperlukan untuk kondisi mental pasien supaya lebih stabil. Dalam hal ini, beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
Memahami tahapan kemoterapi untuk penderita kanker
Berkonsultasi dengan dokter mengenai kekhawatiran
Meminta dukungan dari keluarga untuk mengurangi kecemasan
Mitos Seputar Kemoterapi yang Perlu Diketahui!
Kemoterapi sering kali dianggap menakutkan oleh sebagian orang. Hal ini tidak lepas dari banyaknya informasi yang beredar di masyarakat, meskipun tidak semuanya memiliki dasar yang jelas atau valid. Berikut beberapa mitos dan fakta seputar kemoterapi:
Rambut yang Mengalami Kerontokan karena Kemoterapi Sulit Tumbuh Kembali
Faktanya, rambut yang mengalami kerontokan karena efek samping kemoterapi dapat tumbuh kembali dalam kurun waktu 2-6 bulan. Sel-sel folikel rambut merupakan salah satu sel yang aktif membelah dengan cepat dalam tubuh, sehingga rambut umumnya dapat tumbuh kembali setelah pasien menyelesaikan kemoterapi.
Kemoterapi Menyakitkan
Beberapa orang merasa khawatir untuk menjalani kemoterapi karena adanya anggapan bahwa prosedur ini sangat menyakitkan. Padahal, kemoterapi umumnya tidak menimbulkan rasa sakit saat obat diberikan, terutama jika dilakukan melalui infus atau suntikan di bawah pengawasan tenaga medis.
Rasa tidak nyaman yang mungkin dirasakan lebih sering berasal dari efek samping obat, seperti mual, lemas, atau nyeri tertentu pada tubuh, bukan dari proses pemberian kemoterapinya sendiri.
Kemoterapi Diperuntukkan Bagi Pasien Tingkat Lanjut
Kemoterapi dapat diberikan pada berbagai tahap pengobatan, tergantung pada jenis, stadium, dan kondisi kanker yang dialami pasien. Berikut beberapa tipe pengobatan dari kemoterapi:
Terapi adjuvan: Kemoterapi diberikan setelah operasi atau radioterapi untuk menghancurkan sisa sel kanker.
Terapi kuratif: Kemoterapi (sering dikombinasikan dengan radiasi dan/atau operasi) bertujuan menghilangkan kanker secara tuntas.
Terapi neoadjuvan: Kemoterapi dilakukan sebelum operasi atau radioterapi untuk mengecilkan ukuran tumor.
Terapi paliatif: Kemoterapi digunakan untuk mengurangi gejala dan mengecilkan tumor tanpa tujuan menyembuhkan kanker.
Kisah Ibu Lily Breast Cancer Survivor yang Fokus pada Kesembuhan Tanpa Khawatir Biaya
Bu Lily, seorang penyintas Breast Cancer, menjalani serangkaian pengobatan hingga saat ini setelah sel kanker kembali muncul pada tahun 2018. Sejak saat itu, ia telah menjalani berbagai tindakan medis seperti mastektomi radikal, pemeriksaan PET scan, histerektomi total, serta targeted therapy yang masih berlangsung hingga sekarang.
“Puji Tuhan semuanya Prudential yang support, mulai dari pemeriksaan screening, pengobatan aktif, rawat jalan, target terapi, hormon terapi Prudential yang back up semua.
Simak kisah selengkapnya di bawah ini